MAKANAN DAN PIKIRAN

Beberapa mungkin bertanya, bukannya para rishi jaman dahulu biasa makan daging? Ada kejadian seperti itu pada kisah Vathapi-Illvala. Ini juga sering dikutip oleh dalam dakwah dari orang-orang semacam Zakir Naik. Dengan demikian mempersamakan kebiasaan makan para pengikut Veda dengan umat lainnya.

Ya, ada disebutkan hal-hal semacam itu dalam kisah-kisah masa lampau. Kita perlu memahami dengan jelas mengapa dan dalam keadaan bagaimana beliau makan daging. Pertama bahwa beliau itu tidaklah makan daging sebagai makanan kesehariannya. Hewan akan dikorbankan dalam yajna tertentu, kepada api suci, lalu kemudian para rishi yang memiliki kekuatan yoga sangat tinggi memakannya sebagai prasad yajna. Karena kekuatan yajna khusus ini si binatang korban langsung pergi ke surga. Dalam cerita Maharishi Agastya juga seperti itu. Disebutkan bahwa begitu Agastya Muni berkata, “vathapi jirno bhava”, raksasa Vathapi dalam bentuk daging kambing itu langsung hancur dan lenyap. Jangan lupa Agastya punya kekuatan mengeringkan lautan lho!

Beberapa bagian dalam Veda memang menjelaskan adanya kebiasaan makan daging pada masyarakat Veda jaman dahulu. Tetapi keadaan saat itu sungguh jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Dalam keadaan tertentu mereka diijinkan makan daging yang telah dipersembahkan dalam upacara yang sangat rumit dan suci. Daging dari tubuh hewan yang dikurbankan dalam upacara ada yang bisa dianggap sebagai karunia (prasada). Tetapi dalam upacara seperti itu, kekuatan mantra para Brahmana juga mampu membangkitkan hewan yang dikurbankan dalam tubuh jasmani yang baru, sehingga tubuh yang lama tidak digunakan lagi. Brahmana yang bertanggung jawab dan juga pelaksana upacara kurban suci semacam ini harus mampu menyeberangkan roh hewan yang dikurbankan ke tingkat rohani yang lebih tinggi. Hanya setelah melalui syarat-syarat seperti ini daging itu bisa dimakan.

sadhu (hindu holy man) with cow - orchha (india)

Tetapi sekarang daging tidaklah dianjurkan untuk para Brahmin. Pertama kita harus tahu kenapa kita perlu makan. Itu adalah untuk menjadi sehat. Tidak hanya sehat fisik tetapi juga sehat secara rohani. Dalam Sanskrit ini disebut svasthya, pikiran yang sehat, suci, dan damai. Daging dan makanan non vegetarian memang memberi kekuatan kepada tubuh tetapi tidak pada pikiran. Kekuatan mental sangat diperlukan. Untuk hidup damai kita harus memiliki pikiran yang suci dan damai, stabilitas dan konsentrasi yang baik. Bagi kita daging dilarang. Sejak berbagai jaman, para leluhur kita, para pengikut Veda terutama para Brahmin terkenal penuh kelembutan, berbelas kasih, tenang dan pandai, sejak jaman dahulu pula para leluhur kita tidak memakan daging. Kalau kita mulai makan daging, maka pelan-pelan kita akan kehilangan semua sifat baik ini. Tentu perubahan itu tidak akan kelihatan dalam semalam. Itu perlu waktu dan akan tampak pada generasi keturunan kita berikutnya.

Banyak pemenang hadiah Nobel, orang-orang yang berbudi dan baik hati juga makan daging. Bagaimana dengan ini? Mendapatkan hadiah Nobel bukanlah tolok ukur seseorang memiliki pikiran yang suci, damai, tenang, dan konsentrasi yang baik. Contohnya para ilmuwan, mereka sesungguhnya lebih gelisah pikirannya. Semua yang mereka temukan tidaklah timbul dari pikiran yang tenang dan damai tetapi pikiran yang terganggu. Karena itu mereka bisa menciptakan sesuatu yang baru terus. Pada umumnya para Brahmana diharapkan memiliki pikiran yang tenang dan damai serta konsentrasi yang tinggi untuk melakukan japa dan tapa. Bahkan pada jaman dahulu, sekalipun mereka terkadang makan daging, namun kekuatan yogi mereka yang tinggi dapat tetap menjaga kedamaian pikirannya. Tapi bila di Kaliyuga sekarang ini, kekuatan mental dan konsentrasi kita jelas sudah menurun jauh. Suasana sattvik dan sifat-sifat sattvik berkurang karena kita tidak melakukan cukup japa, tapa, dan yajna dengan kualitas sebaik dahulu kala. Jadi kalau kita mulai lagi ditambah dengan makan daging, maka semua sifat baik perlahan-lahan akan lenyap.

Ada pula yang berkeberatan. Kita mengenal ada seorang yang sangat baik. Dia penuh kesabaran, memiliki pengetahuan yang luas tentang agama, dan mampu melaksanakan banyak perbuatan yang berkebajikan. Di satu sisi ada seorang vegetarian yang kerjanya mengritik dan menyindir teman-temannya yang masih makan daging. Gampang tersinggung pula. Bagaimana ini?

Bila kemajuan sadhana bisa diperoleh dengan mengganti pola makan saja maka alangkah mudahnya menjalani hidup rohani. Namun apapun itu, pemilihan gaya hidup khususnya makanan dalam Hindu adalah sesuatu yang sangat pribadi. Sastra menyatakan bahwa tanpa makan daging seseorang membantu usahanya untuk mewujudkan kondisi Sattvika, yang menguntungkan bagi kemajuan rohaninya. Apakah hanya makanan saja faktor yang menentukan? Tentu saja tidak, tetapi memang para Rishi kita menemukan adanya pengaruh yang besar dari makanan. Jika sadhaka belum dapat mewujudkan semua sifat-sifat mulia, maka tidak ada seorangpun yang berhak menuntutnya. Begitu pula sadhaka yang bervegetarian harus sadar sepenuhnya bahwa dengan mengubah pola makan merupakan upaya untuk menjadikan hidup rohani lebih baik, tetapi bukan untuk meninggikan dirinya di atas anggota masyarakat lainnya.

Kesimpulannya apakah seorang Hindu harus tidak makan daging? Harus, mungkin adalah kata yang terlalu keras. Seorang Hindu berusaha melaksanakan sadhananya dengan baik. Sadhana ini bertujuan untuk memurnikan pikiran. Segala sesuatu berasal dari pikiran, termasuk pilihan makanan. Jadi seseorang yang pikirannya dimurnikan, dia akan bebas dari amarah, keserakahan, dan rasa iri. Dia kemudian tidak akan melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain apapun alasannya. Memang dalam rangka membantu proses memurnikan pikiran seorang Hindu memilih makanan vegetarian ini. Tetapi yang sesungguhnya adalah pada saat pikiran dimurnikan, seorang Hindu atau bukan Hindu pun, secara alamiah akan menghindari makanan non vegetarian.

Nilai-nilai kehinduanlah yang membuat orang memilih diet ini. Vegetarianisme sejalan dengan nilai-nilai Hindu. Jadi seorang Hindu bukannya harus tidak makan daging, tetapi mereka lebih memilih untuk tidak makan daging atau merasa lebih baik hidup bervegetarian. Biarlah setiap orang menjadi penentu hidup dan nasibnya sendiri. Manusia biasa, bahkan Tuhan Sendiri tidak dalam posisi memaksakan suatu kondisi kepada orang lain. Setiap tindakan memiliki konsekuensinya. Setiap yang kita lakukan memiliki efeknya sendiri terhadap diri kita secara alamiah. Sastra Veda dan para Acharya hanya mengungkapkannya saja kepada kita. Semua keputusan berada di tangan kita.

AIR DAN KEKUATAN DOA DALAM PENELITIAN DR. MASARU EMOTO

Masaru Emoto lahir di Yokohama pada bulan Juli 1943. Dia adalah lulusan departemen Yokohama Municipal University dari humaniora dan ilmu pengetahuan dengan fokus pada Hubungan Internasional. Pada tahun 1986 ia mendirikan IHM Corporation di Tokyo. Ia menerima sertifikasi dari Open International University, Sri Lanka, sebagai seorang Dokter Pengobatan Alternatif pada Oktober 1992.  Saat ini ia adalah kepala I.H.M. Umum Lembaga Penelitian dan Presiden Emeritus dari Water Internasional untuk Kehidupan Foundation, sebuah Organisasi non-profit.

Dr. Masaru Emoto telah banyak meneliti tentng air, hasil dari penelitiannya ditulis antara lain dalam buku “ The Hidden Massages in Water” (  Pesan Tersembunyi dalam Air ), “The Shape of Love” dan masih banyak buku yang berkaitan dengan penelitiannya. Beliau meneliti air dengan menggunkan suatu alat khusus. Penelitian ini benar benar menggunakan kaidah kaidah ilmiah. Sebagai seorang terapis ia menggunakan air cluster mikro dan MRA (Magnetic Resonance Analyzer) dalam sesi-nya. Dari MRA tersbebut ia menempatkan informasi tertentu ke dalam air dalam bentuk Hado (yang berarti “getaran” dalam bahasa Inggris). Tidak lama dari terapinya ia meyakinkannya bahwa air dapat menyimpan dan membawa informasi. Sudah cukup lama hipotesis ini telah dipercaya oleh orang-orang tertentu seperti homoeopaths atau mereka yang religius, meskipun belum terbukti secara ilmiah dan bahkan telah diabaikan atau ditertawakan oleh sebagian besar para ilmuwan.

Pada tahun 1994, setelah banyak percobaan dan kesalahan, laboratorium di Tokyo berhasil mengambil foto kristal air pertama. Sejak itu beberapa foto kristal telah diambil. Banyak pemeriksaan dan percobaan telah dilakukan dengan tema yang berbeda seperti “efek dari kata-kata negatif dan positif terhadap air”, “pengaruh musik”, dan “kekuatan doa dalam berbagai bentuk “. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik, kata-kata, pikiran, dan pengaruh doa sangat berpengaruh pada struktur kristal air; ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar mempengaruhi realitas fisik kita. fotografi Crystal berhasil membuat hipotesis, bahwa air dapat menyimpan dan membawa informasi, terlihat untuk setiap orang. Selain keindahan kristal air dalam bentuk yang stabil dan harmonis bagaikan karya seni besar yang banyak menyentuh hati masyarakat.

Hasil penelitiannya ia lakukan pada air di danau Biwa Jepang, dengan doa yang tulus dari sekitar 500 orang didapatkan hasil sebagai berikut ;

Berdasarkan penelitian Dr. Masaru Emoto, dapat kita simpulkan bahwa :

  • Air “ menangkap” getaran rasa dalam bahasa apapun, Tulisan, gambar dan musik.
  • Air bisa “mengerti”, menyimpan dan menyalurkan informasi semua benda juga “mengerti”, tetapi air paling peka, jumlahnya sangat banyak dan ada di mana mana.
  • Getaran air merambat kemolekul air di tubuh manusia.
  • Perilaku manusia bisa menjadi beringas, tidak terkendli atau sebaliknya.
  • Pikiran dan ucapan melahirkan getaran dan vibrasi yang bisa merubah susunan molekul benda benda.

Berkaitan dengan penelitian Dr.Masaru Emoto, air merupakan sunber kehidupan bagi seluruh mahluk hidup yang ada di alam ini, air dalam Hindu sangatlah sakral hal ini di karenakan air sangat banyak mengambil peran penting dalam melaksanakan suatu kegiatan Upacara. Tidak hanya itu dengan melaksanakan Tri Sandhya  atau dengan  pengucapan Japa mantra secara rutin dan tulus maka “vibrasi” yang akan terima dapat memperbaiki susunan molekul air dalam tubuh. Hampir 65 % tubuh kita terdiri dari air dan dapat di gambarkan seperti gambar di smping. Maka persembahyangan bersama yang dilaksanakan tentu akan mempengaruhi susunan molekul air dalam tubuh orang yang ikut persembahyangan tersebut.

Keterangan Gambar :

1.Bentuk Kristal Air setelah didoakan secara Hindu

2.Bentuk Kristal Air setelah dibacakan Mantra Sansekerta

3.Bentuk Kristal Air setelah di caci maki dengan kata kata

4. Bentuk Kristal Air setelah di perdengarkan Musik “Heavy Metal”

5. Bentuk Kristal Air sebelum di doakan

6. Kristal Air seyelah di doakan

7. Kristal Air setelah satu bulan diberi doa

 

Demikian juga dengan Tirtha yang kita dapatkan sehabis persembahyangan susunan molekul molekulnya tentu bertambah indah akibat vibrasi sekian banyak orang. Apalagi jika ditambahkan dengan melaksanakan Japa Mantra Gayatri (Mantram Gayatri adalah mantram bait pertama pada Tri Sandhya yang sering juga disebut Weda Mata atau Ibu dari Weda ). Dengan susunan molekul air yang baik, tentu tubuh kita akan sehat. Ibarat sampah yang berserakan, biasanya tempat tersebut akan banyak lalat dan akan menjadi sumber penyakit. Tentunya sanagt berbeda dengan tempat yang bersih dan suci.., jadi kita dapat mengambil kesimpulan bahwa datang kepura untuk menlaksanakan kewajiban dharma dan dengan rajin melaksanakan Tri Sandhya akan menyehatkan fisik dan rohani.

 

 

Keterangan Gambar :

1.Bentuk Kristal Air setelah didoakan secara Hindu

2.Bentuk Kristal Air setelah dibacakan Mantra Sansekerta

3.Bentuk Kristal Air setelah di caci maki dengan kata kata

4. Bentuk Kristal Air setelah di perdengarkan Musik “Heavy Metal”

5. Bentuk Kristal Air sebelum di doakan

6. Kristal Air seyelah di doakan

7. Kristal Air setelah satu bulan diberi doa

Demikian juga dengan Tirtha yang yang kita dapatkan sehabis persembahyangan susunan molekul molekulnya tentu bertambah indah akibat vibrasi sekian banyak orang. Apalagi jika ditambahkan dengan melaksanakan Japa Mantra Gayatri ( Mantram Gayatri adalah mantram bait pertama pada Tri Sandhya yang sering juga disebut Weda Mata atau Ibu dari Weda ). Dengan susunan molekul air yang baik, tentu tubuh kita akan sehat. Ibarat sampah yang berserakan, biasanya tempat tersebut akan banyak lalat dan akan menjadi sumber penyakit. Tentunya sanagt berbeda dengan tempat yang bersih dan suci.., jadi kita dapat mengambil kesimpulan bahwa datang kepura untuk menlaksanakan kewajiban dharma dan dengan rajin melaksanakan Tri Sandhya akan menyehatkan fisik dan rohani.

PUPUTAN MARGARANA MEMBERIKAN INSPIRASI UNTUK KAUM MUDA HINDU

“Puputan” berasal dari akar kata bahasa Bali “Puput”,atau “Pragat” dalam bahasa Indonesia berarti “selesai”, “ berakhir “. Pada masa perang kemerdekaan para perjuangan Bali, di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai aktif melakukan perlawanan terhadap Belanda. Ketika Overste ( Letkol ) termeulen, komandan tentara belanda untuk sunda kecil, mengajak Letkol Ngurah Rai berunding, beliau menjawab tegas “ Perundingan adalah urusan orang Jakarta, sedangkan tugas kami adalah mengusir penjajah dari pulau ini sampai titik darah penghabisan”
ini mengingatkan kita kepada ucapan patih Djelantik ketika menolak tuntutan Belanda tahun1844, 102 tahun sebelumnya.
Pada 20 nopember 1946 sejak pagi pagi buta Belanda mulai mengurung desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai pada pertempuran yang seru itu pasukan depan Belanda Banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentara yang ada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari makasar .
didalam pertempuran sengit itu semu anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan . Disinilaah pasukan Ngurah Rai mengadakan “puputan” sehingga pasukan yang bejumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya di pihak belanda lebih kurang 400 orang yang tewas.
Dari sejarah singkat mengenai perang puputan, ternyata banyak inspirasi yang diwariskan kepada kita khususnya generasi muda Hindu yang diantaranya;
Pertama, Cita – Cita yang Jelas
Cita cita Ngurah Rai dan kawan kawanya yaitu, kemerdekaan bangsa Indonesia. Pembebasan ibu pertiwi ari penjajahan bangsa asing. Ini adalah cita cita besar yang melampaui cita cita pribadi atau golongan. Bung Karno mengatakann supaya kita mengantungkan cita cita kita setinggi langit. Cita cita membuat kita bangun lebih pagi, membuat kita lebih lama bekerja dibawah sengatan terik matahari. Namun apakah kita semua pernah pada saat ornag orang menanyakan cita cita kita pada saat anak anak “ mau jadi apa kalau sudah besar” jawaban kita pastilah beragam “ mau jadi dokter, perawat, pilot atau pramugari bahkan pengusaha yang sukses. Akan tetapi tidak ada yang menjawab ingin menjadi pahlawan. Karena pahlawan bukanlah pekerjaan, tetapi pahlawan adalah sebuah panggilan. Bila kita mengerjkan tugas tugas kita bagaikan panggilan, mengerjakan dengan sepenuh Hati, dengan ras cinta, maka kitapun akan menjadi pahlawan dalam lingkungan kita. Setiap zaman sebenarnya menyediakan tantangan dan kesempatan bagi setiap orang untuk melakukan tindakan tindakan besar yaitu bila ia bekerja tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi kebaikan orang lain.
Kedua, Semangat Pantang Menyerah
Ketika Nurah Rai di ajak berunding oleh letkol Ter Meulen, komandan tentara belanda, komandan tentara belanda untuk sunda kecil, beliau menjawab tegas tegas “ Perundingan adalah urusan orang Jakarta, sedangkan tugas kami adalah mengusir penjajah dari pulau ini sampai titik darah penghabisan” bila kita memiliki cita cita yang jelas, tantangan atau godaan apapun tidak akan menggoyahkan kita. Kita tidak akan mudah menyerah. Sepertihalnya setelah hampir sebulan berlayar, anak buah Columbus sudah putus asa. Pulau yang diimpikan belum juga kelihatan. Mereka terus mendesak Columbus untuk kembali ke Spanyol, tetapi setiap kali mendesak Columbus menjawab “ayo kita teruskan sedikit lagi” dan seterusnya kita tahu. Sehingga ia menemukan benua Amerika,, sekalipun benua Amerika sudah ditemuka oleh orang orang indian. Yang jelas inilah hasil sebuah cita cita dengan semangat pantang menyerah.
Ketiga,keberanian
Ngurah Rai dan kawan kawan pastilah bukan orang orang pengecut. Kalau dia orang pengecut, pastilah ia akan mengakhiri hidupnya sebagai pensiunan pegawai pekebunan kapas milik pemerintahan jajahan jepang. Tetapi Ngurah Rai dan kawan kawan menempuh jalan aman dan penakut mereka dengan sadar memilih jalan sulit dan berbahaya. Mereka memilih jalan yang jarang di lalui. Ini yang perlu kita teladani dalam hidup ini. Cita cita yang cemerlang sering kali gagal karena kita tidak memiliki keberanian untuk mewujudkannya. Kita takut untuk memulai, kita takut mengambil resiko, kita takut gagal, semua rasa takut itu melumpuhkan kita.. Goethe pujangga barat Jerman, yang paham Filsapat Hindu dan percaya dengan reinkarnasi, mengatakan “ jika anda memiliki keinginan, laksanakanlah. Keberanian memiliki kejeniusannya sendiri” jelasnya, kepandaian itu akan timbul bila kita memiliki keberanian.

Keempat, smangat berkorban
Hidup ini memang menuntut pengorbanan ( Yadnya ) dalam bahasa agama Hindu yang merupakan salah satu inti utama dari agama Hindu. Akan tetapi menafsirkan kata yadnya dalam arti sempit, yaitu dengan membuat upacara upacara.
Mahatma Gandhi Mengatakan “ yadnya yang sebenarnya, bukan menuangkan minyak Ghee ke dalam Api, tetapi mengorbankan jiwa dan raga demi kepentingan orang banyak” inilah yang telah dilakukan Ngurah Rai dan Kawan kawan. Kita semestinya dapat mengambil nilai nilai luhur dari perjuangan para pahlawan kita agar kita sebagai generasi muda tidak mudah melupakan bahwa berkat perjuangan mereka yang gigih untuk mempersatukan nusantara ini, tidak sepantasnya kita lupakan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang yang menghormati para pahlawannya, Bangsa yang kerdil melupakannya”

VEDIC MATHEMATIC

SHULBASUTRA ( स्हुळ्बसुत्र )  VEDIC MATHEMATIC

Shulbasutra ( स्हुळ्बसुत्र ) merupakan model-model matematika paling awal, dan tentunya pada mulanya digunakan untuk tujuan keagamaan. Pada dasarnya mereka dimasukkan sebagai sisipan dari Kalpasutra untuk aspek ritual (Shrauta), yang memperlihatkan model-model paling awal dari ilmu aljabar. Pada intinya mereka berisikan rumus-rumus matematika untuk merancang berbagai bangunan altar tempat pemujaan dalam ritual Veda. Sehingga orang orang pada saat itu sudah memiliki kemampuan matematika yang tinggi ini terlihat dari pemahaman astronomi jaman dulu yang menakjubkan ini adalah bukti dari pengusaan matematika orang orang Hindu adalah penemu dari sebuah bilangan bilangan dan seorang kritikus asal Jerman Schelegel mengatakan bahwa “sistem desimal yang sama pentingnya dengan penemuan sistem huruf adalah hal yang paling penting dalam penemuan umat manusia adalah penemuan yang dicapai oleh orang Hindu”

Kemudian  W.W HunterKepada orang orang Hindu kita berhutang atas simbol angka desimal, angka India 1 sampai 9 adalah bentuk singkat dari huruf inisial dari  angka itu sendiri dan nol atau 0 melambangkan huruf pertama dalam kata sansekerta, “Sunya”, orang Arab meminjam simbol ini dari orang Hindu dan menyebarkannya ke Eropa” ( Imperial Gaze, hal 219 India )

Berikut ini angka yang dimaksud dalam bahasa latin Devanagari memiliki sepuluh bentuk angka. Kesepuluh bentuk tersebut dapat di paparkan dalam kolom berikut;

Sansekerta
Moderen 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tentang kapan Shulbasutra disusun seperti dijelaskan oleh N.S. Rajaram dalam Vedic and The Origin of Civilization (hal.139), adalah sekitar 2000 B.C. Tetapi, setelah memperhitungkan data astronomi sejak Ashvalayana Grihyasutra, Shatapantha Brahmana, dll, saat penyusunannya bisa dibawa jauh kebelakang mendekati 3000 B.C., mendekati saat terjadinya Perang Mahabharata dan penyusunan naskah-naskah Veda lainnya oleh Srila Vyasadeva. Penemu pertama kalkulus modern adalah orang India bernama Bhaskaracarya (1150 A.D.), dimana orang-orang mengira itu merupakan kontribusi dari Newton atau Liebnitz. Penggunaan aljabar, trigonometri, kwadrat dan akar pangkat tiga juga pertama kali dimulai di India. Formulasi istimewa angka “0”, merupakan hasil pemikiran ilmiah luar biasa bangsa India, yang memungkinkan terjadinya banyak kemajuan di bidang matematika yang kita miliki sekarang ini. Dan adalah Aryabhatta (497 A.D.) yang menghitung “phi” sebesar 3,1416. Banyak metode matematika tersebut bertebaran di dalam naskah-naskah seperti Shatapatha Brahmana, Baudhayanasutra, dan lain-lain.

Konsep Aljabar dalam orang Hindu kuno memahami akar dan resolusi umum persamaan dari tingkat ke dua. Aljabar dikembangkan dengan astronomi jadi bisa bisa diasumsikan bahwa aljabar telah dipakai sekitar 3000 – 2500 S.M. Rsi Bhaskaracarya menulis buku Siddhanta siromani, berisikan tentang aljabar dan aritmatika. Pembagian lingkaran olehnya sangatlah menakjubkan untuk analisa menitnya yang adalah sebagai berikut;

60 Vikalpa ( detik )     –  Satu Kala ( menit )

60 Kala                        –  Satu Bhaga ( derajat )

30 Bhaga                     –  Satu Rasi ( tanda bintang )

12 Rasi                         –  Satu Bhagana ( revolusi )

Sehingga Model-model matematika Veda jauh lebih maju dibandingkan dengan matematika yang ditemukan pada masa-masa awal peradaban bangsa Yunani, Babylonia, Mesir, atau Cina. Ternyata, rumusan geometri yang dikenal sebagai theorema Pythagoras dapat ditelusuri ke Baudhayana, bentuk Shulbasutra paling awal dari masa sebelum abad kedelapan B.C. Hal ini merupakan konfirmasi bahwa para filsuf bangsa Yunani kuno mendapatkan inspirasinya dari India. Ternyata, Prof. R.G. Rawlinson menyatakan, “Hampir semua teori, kepercayaan, filsafat, dan matematika, yang diajarkan oleh Pythagoras sudah dikenal di India pada abad keenam B.C”.

Veda Mengajarkan Kesederajatan Antara Semua Mahluk Hidup dan Cinta Kasih Sesama

Dalam upanisad Brahman, Tuhan, ada di dalam seluruh ciptaannya. Dengan demikian setiap ciptaan, khususnya semua mahluk hidup terutama manusia mengandung kesucian Tuhan ( Brahman ) di dalam diri setiap mahluk hidup, yang sering kita sebut dengan atman ( percikan terkecil  dari parama Atman/ Brahman itu sendiri ). Sehingga Veda mengajarkan setiap umatnya untuk saling mengasihi khususnya setiap mahluk hidup baik itu hewan, tumbuhan dan alam sekitar. Filosopi veda berputar di sekitar persaudaraan dan dan kesederajatan. Tidak ada istilah dalam veda mengeneai konsep penggolongan  manusia menjadi manusia yang beriman dengan manusia kafir,  agama langit dan bumi , system jithad, perang suci, ada tuan ada budak  dan lain sebaginya yang menggolongkan manusia untuk membedakan antara yang satu dengan yang lainnya. Ajaran dalam Veda tidak menggolongkan manusia atau agama seperti itu, seperti halnya apakah sinar Matahari hanya menyinari orang orang atau golongan tertentu yang layak untuk disinari, akan tetapi sinar matahari tidak memandang  sipa yang akan disinari olehnya bahkan ia tidak memalingkan sinarnya dari kotoran sekalipun. Serta alam ini memperlakukan semuannya sama, apakah dia coklat atau hijau ataupun hitam, tinggi atau rendah, Tuhan ( Sang Hyang Widhi ) telah menetapkan cara yang sama bagi kelahiran dan kematian semua manusia di atas bumi ini. Semua jiwa adalah sederajat seperti bunyi seloka dalam Bhagawad Gita dan Rig Veda  berikut;

Samo ham sarvo bhutesu na me devasyo stina pryah

Ye bhajanti tu man bhaktya mayite tesu ca pyaham”

“ Aku adalah sama bagi semua mahluk, bagi-Ku tidak ada yang terbenci dan terkasihi, namun bagi yang berbhakti dengan penuh dedikasi, mereka ada pada-Ku dan Aku ada pada mereka”

-Bhagawad Gita IX.29

***

Hendaknya hati kita

Dalam kesederajatan dan persatuan

-Rig Veda 10/191/4

Dari seloka di atas, yang dikutip melalui pustaka suci/ kitab Bhagawad Gita dan Rig Veda  adalah gambaran sempurna dari sifat dan prinsip Tuhan ( Brahman ) Hindu. Tuhan ini, Tuhan  yang bukanlah Tuhan yang hanya duduk di singgasana di sebuah lapisan langit dengan cambuk api di satu tangan dan hadiah di tangan yang lainnya, dimana ia akan siap mengayunkan  cambuknya pada siapa yang tidak percaya kepadanya atau sebaliknya menghambur hadiah penuh kenikmatan kepada mereka yang memujanya. Hindu terbebas dari doktrin seperti ini yang dapat mengakibatkan timbulnya suatu kebencian di antara manusia dan bertindak “mengatas namakan Tuhan atau agama”. Konsep Veda juga banyak mengajarkan mengenai persaudaraan antara umat manusia, menurut filosofi Veda, seluruh manusia di atas bumi adalah bersaudara satu sama lain. Sang Hyang Widhi adalah ibaratkan ayah yang baik hati bagi semua. Di mata Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah. Dia memperlakukan semua sama menganugrahkan kebahagiaan suci dan rasa syukur kepada semua, tidak peduli suku bangsa, warna kulit dan keyakinan, sebab veda mengajarkan banyak jalan untuk menuju jalan-Nya itu seperti yang tertuang dalam Bhagawad Gita di jelaskan;

ye yatha mam prapadyante tamstathaiva bhajamy aham,

Mama vartmanuvartante manusyah partha sarvasyah”

Jalan apapun orang memuja-Ku, pada jalan yang sama Aku memenuhi keinginannya,

Wahai  partha, karena semua jalan yang ditempuh mereka semua adalah jalan-Ku”

Bhagawad Gita IV.11

Maka ajaran Hindu tidak menekankan umatnya untuk “harus” ada satu jalan yang benar tetapi umat Hindu bebas memilih jalannya msing masing sesuai dengan kemampuan dan keyakinannya, “jalan” dalam artian disini kaitannya dengan Catur Marga Yoga yang meliputi, Jnana Marga Yoga, Bhakti Marga Yoga, Karma Marya Yoga dan Raja Marga Yoga dengan latihan atau disiplin  astangga yoga.  Sehingga dari pada itu mengenai persaudaraan, ajaran Veda didasarkan atas persaudaraan yang universal. Seluruh manusia memiliki hak yang sama di atas bumi, semunya milik alam semesta dan alam semesta milik semuanya. Bila alam baik ke pada semua, mangapa manusia membenci satu sama lainnya atas dalih perbedaan agama?

Karenyanya Veda secara empatik mendorong seluruh manusia di atas bumi untuk mencintai satu sama lainnya dari lubuk hatinya seperti yang dinyatakan dalam kitab Atharva Veda sebagai berikut ;

“ cintai satu sama lain

Seperti sapi mencintai anaknya yang baru lahir”

Atharva Veda 3/30/1

Konsev veda juga banyak mengajarkan dan menekankan bahwa jiwa dari semua orang, burung, binatang buas dan serangga memiliki sinar suci yang sama. Tidak ada satupun yang kosong dari kemurnian hati, keagungan dan kemulian Sang Hyang Widhi. Seluruh mahluk berasal dari Sang Paramatman ( mahluk utama, supreme being ) yang adalah ayah bagi semua anak aanak-Nya. Bila demikian halnya, mengapa semua manusia saling menghina satu sama lain ?  Ida Sang Hyang Widhi menyusupi segala mahluk hidup, apakah tinggi atau rendah, pendosa atau suci, dan juga  Hindu tidak membatasi Tuhan  hanya ada di suatu tempat yang jauh dari jangkauan manusia atau yang duduk disinggasananya yang megah, dalam ajaran veda Tuhan  mengisi ruang dan waktu dan menyusupi semua mahluk hidup yang ada seperti dijeaskan dalam kitab Yajur Veda sebagai berikut;

“Dia yang menyusupi segalanya

Meliputi seluruh mahluk

Di dalam maupun di luar”

-Yajur Veda 32/8

Di dalam memahami filsafat emas yang di sebutkan di atas mengenai kemahahadiran Tuhan  dan menyadari kilatan cahaya sang Hyang Widhi dalam semua mahluk di atas bumi, tidak akan membenci mahluk lain apapun. Dia yang matanya melihat pada semua orang sebagai saudara yang sederajat yang memiliki percikan suci yang sama, yang dia rasakan dalam dirinya sendiri, bebas dari kebencian, kedengkian dan fanatisme. Mantram Yajur Veda berikut ini menjelaskan ide tersebut :

“ Dia yang melihat seluruh mahluk

Dalam dirinya sendiri

Dan menemukan refleksi

Dari dirinya sendiri dalam semua mahluk

Tidak pernah memandang rendah siapapun”

-Yajur Veda 40/6

Jadi sudah jelas bahwa Filosofi Hindu ( Filosofi Veda ) bergantung atas kesederajatan dan persaudaraan. Ia didasarkan atas persaudaraan universal – persaudaraan bukan hanya antara orang orang Hindu saja tetapi seluruh manusia di atas bumi, karena semua hati adalah singgasana dari Yang Mahakuasa.

“O Arjuan, Sang Hyang paramatma tinggal

Dalam hati semua mahluk hidup”

-Gita 18/61

Sehingga banyak para sarjana barat mengemukakan kekagumannya pada veda damn berikut kutipan dari beberapa sarjana barat mengenai veda;

–         Max Mueller, indologis asal jerman mengungkapkan “ konsep dunia sebagaimana di simpulkan dari veda dan utamanya dari upanisad sungguh sungguh menggumkan’.

–         Prof. Heern, sarjana barat terkemuka, menulis “ veda berdiri sendiri dan kemegahannya tersendiri berlaku sebagai mercusuar bagi gerak maju kemanusiaan”

–         Lord Morly menyatakan tanpa ragu” apa yang di temukan dalam veda, tidak ada di tempat lain manapun”

–         Henry D Thoreau, filsup Amerika, mengungkapkan “ kapanpun saya membaca bagian manapun dari veda, saya merasakan bahwa beberapa cahaya tak dikenal dan bukan dari bumi ini menerangi saya. Di dalam ajaran agung dari veda, tidak ada sentuhan sektarianisme. Ia adalah untuk segala jaman, cuaca dan nasionalitas dan jalan agung untuk pencapaian pengetahuan besar. Ketika saya ada padanya, saya merasa bahwa saya ada di bawah kelap kelip surga surga di suatu malam musim panas”.

–         Julius Robert Oppenheimer, ilmuan ( pencipta bom atom AS )dan Filsuf berpendapat bahwa “ akses kepada veda adalah hak istimewa terbesar dari abad ini yang dapat di klaim selama abad abad sebelumnya”.

Maka sudah jelas ditegaskan dalam veda, bahwa hendaknya mahluk di atas bumi baik itu manusia, hewan dan tumbuhan atau alam sekitar untuk saling mengasihi antara sesama dengan tidak memandang kelebihan atau kekurangan dari mahluk lainnya dan  juga veda menegaskan bahwa tentang ajran ahimsa yang sangat universal. Terangilah mata yang memancarkan pandangan kasih dan cinta pada yang lain. Veda mengajarkan bahwa semuanya bersahabat, tidak seorangpun musuh. Cinta melahirkan cinta, kebencian melahirkan racun. Bila engkau melihat kepada yang lain dengan mata yang bersahabat dan penuh cinta kasih, mereka akan mengembalikan pandangan kasih kepadamu. Oleh karena itu adalah merupakan tugas kita yang utama untuk menciptakan atmosfir rasa cinta kasih, kesederajatan dan kekeluargaan antara semua mahluk yang ada. Untuk mencapai keseimbangan cinta kasih dapat diwujudkan melalui garis vertical dan horizontal. Terlebih lagi memsuki abad moderen dan global dibutuhkan pemikiran yang arif dan bijaksana. Disuatu sisi dituntut bersikap rasional, namun disisi lain masih diperlukan curahan emosi spiritual terutama hubungan manusia dengan Tuhan sebagai maha pencipta alam semesta beserta isinya. Jalan terbaik adalah bagaimana cara mensinergikan emosi spiritual dengan sikap rasional. Dalam hal ini relefasi keseimbangan cintakasih dengan abad moderen lebih lebih difokuskan kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia Yang memegang teguh nilai nilai ke Tuhanan, kemanusiaan dan kealaman. Saling mencintai dan mengasihi satu sama lain dan siapa saja tanpa memandang perbedaan fisik akan memberikan keseimbangan cinta kasih. Dalam Yajur Veda 32.8 dinyatakan “ Sa’atah Protasca Wibhuh Prajasu” yang artinya Tuhan terjalin dalam mahluk yang diciptakannya.

Semoga semua bahagia,

Semoga semua sehat,

Semoga semua senang,

Semoga tidak ada yang menderita dari

Kesengsaraan dan kemalangan.

***

PESAN BIJAK MAHATMAGANDHI

Pria India yang rendah hati ini telah menciptakan gelombang pengaruh tidak saja di negeri tempatnya dilahirkan, namun keseluruh dunia karena kehidupan sederhana yang diteladankannya. Selain kesederhanaan hidupnya, juga karena filosofi hidup yang dianut dan dijalaninya dengan teguh.
mahatma gandhi
Ditunjukkannya ke masyarakat bahwa perjuangan dapat dimenangkan tanpa senjata dan tumpahan darah. Pertempuran dapat dimenangkan dengan cara menjalankan prinsip-prinsip yang sungguh-sungguh kita yakini. Semakin banyak orang yang datang dalam naungannya karena beliau memberikan keadilan kepada mereka, dengan cara mengajar mereka untuk meminta apa yang mereka inginkan, bukan dengan menuntutnya.

Berikut adalah beberapa petikan ucapannya yang penuh inspirasi:
1. Jadilah bagian dari perubahan yang ingin kamu saksikan di dunia ini.
2. Ketika kamu berhadapan dengan musuhmu, taklukkan mereka dengan cinta.
3. Tidak ada orang yang dapat menyakitiku tanpa izinku.
4. Tidak ada kesia-siaan yang menguras tubuh kecuali kekhawatiran, dan orang yang punya keyakinan pada Tuhan seharusnya merasa malu kalau masih mengkhawatirkan sesuatu.
5. Orang lemah tidak pernah bisa memaafkan. Memaafkan adalah sifat orang perkasa.
6. Tanpa kekerasan adalah senjata milik orang yang perkasa.
7. Apa pendapat saya mengenai kebudayaan barat? Saya kira itu adalah gagasan yang sangat baik.
8. Bila kamu punya kebenaran, maka kebenaran itu harus ditambah dengan cinta, atau pesan dan pembawanya akan ditolak.
Ada beberapa petikan abadi termasuk yang berikut ini:
1. Kalau kamu ditampar, dengan senang hati hadapkan pipi yang satunya.
2. Tuhan tidak punya agama.
3. Ketidak sempurnaan dan kegagalanku sama banyaknya dengan berkat Tuhan yang diberikan dalam bentuk sukses dan kemampuan, dan keduanya kupersembahkan di kakiNya.
4. Cara terbaik menemukan dirimu adalah dengan meleburkan diri dalam pelayanan orang lain.
5. Bumi cukup menyediakan segala sesuatu untuk memuaskan kebutuhan semua orang, bukan semua ketamakan.
6. Kamu dapat merantaiku, kamu dapat menyiksaku, bahkan kamu dapat menghancurkan tubuh ini, tetapi kamu tidak akan dapat memenjarakan pikiranku.
7. Perbedaan antara apa yang kita lakukan dan apa yang mampu kita lakukan sudah cukup untuk menyelesaikan kebanyakan persoalan yang ada di dunia ini.
8. Keyakinan… Harus di dikuatkan dengan alasan… Ketika keyakinan jadi buta, dia akan mati.
9. Sabar berarti siap menderita.
10. Mereka tidak dapat mengambil harga diri kita kalau kita tidak memberikannya kepada mereka.