PUPUTAN MARGARANA MEMBERIKAN INSPIRASI UNTUK KAUM MUDA HINDU

“Puputan” berasal dari akar kata bahasa Bali “Puput”,atau “Pragat” dalam bahasa Indonesia berarti “selesai”, “ berakhir “. Pada masa perang kemerdekaan para perjuangan Bali, di bawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai aktif melakukan perlawanan terhadap Belanda. Ketika Overste ( Letkol ) termeulen, komandan tentara belanda untuk sunda kecil, mengajak Letkol Ngurah Rai berunding, beliau menjawab tegas “ Perundingan adalah urusan orang Jakarta, sedangkan tugas kami adalah mengusir penjajah dari pulau ini sampai titik darah penghabisan”
ini mengingatkan kita kepada ucapan patih Djelantik ketika menolak tuntutan Belanda tahun1844, 102 tahun sebelumnya.
Pada 20 nopember 1946 sejak pagi pagi buta Belanda mulai mengurung desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai pada pertempuran yang seru itu pasukan depan Belanda Banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentara yang ada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari makasar .
didalam pertempuran sengit itu semu anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan . Disinilaah pasukan Ngurah Rai mengadakan “puputan” sehingga pasukan yang bejumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya di pihak belanda lebih kurang 400 orang yang tewas.
Dari sejarah singkat mengenai perang puputan, ternyata banyak inspirasi yang diwariskan kepada kita khususnya generasi muda Hindu yang diantaranya;
Pertama, Cita – Cita yang Jelas
Cita cita Ngurah Rai dan kawan kawanya yaitu, kemerdekaan bangsa Indonesia. Pembebasan ibu pertiwi ari penjajahan bangsa asing. Ini adalah cita cita besar yang melampaui cita cita pribadi atau golongan. Bung Karno mengatakann supaya kita mengantungkan cita cita kita setinggi langit. Cita cita membuat kita bangun lebih pagi, membuat kita lebih lama bekerja dibawah sengatan terik matahari. Namun apakah kita semua pernah pada saat ornag orang menanyakan cita cita kita pada saat anak anak “ mau jadi apa kalau sudah besar” jawaban kita pastilah beragam “ mau jadi dokter, perawat, pilot atau pramugari bahkan pengusaha yang sukses. Akan tetapi tidak ada yang menjawab ingin menjadi pahlawan. Karena pahlawan bukanlah pekerjaan, tetapi pahlawan adalah sebuah panggilan. Bila kita mengerjkan tugas tugas kita bagaikan panggilan, mengerjakan dengan sepenuh Hati, dengan ras cinta, maka kitapun akan menjadi pahlawan dalam lingkungan kita. Setiap zaman sebenarnya menyediakan tantangan dan kesempatan bagi setiap orang untuk melakukan tindakan tindakan besar yaitu bila ia bekerja tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi kebaikan orang lain.
Kedua, Semangat Pantang Menyerah
Ketika Nurah Rai di ajak berunding oleh letkol Ter Meulen, komandan tentara belanda, komandan tentara belanda untuk sunda kecil, beliau menjawab tegas tegas “ Perundingan adalah urusan orang Jakarta, sedangkan tugas kami adalah mengusir penjajah dari pulau ini sampai titik darah penghabisan” bila kita memiliki cita cita yang jelas, tantangan atau godaan apapun tidak akan menggoyahkan kita. Kita tidak akan mudah menyerah. Sepertihalnya setelah hampir sebulan berlayar, anak buah Columbus sudah putus asa. Pulau yang diimpikan belum juga kelihatan. Mereka terus mendesak Columbus untuk kembali ke Spanyol, tetapi setiap kali mendesak Columbus menjawab “ayo kita teruskan sedikit lagi” dan seterusnya kita tahu. Sehingga ia menemukan benua Amerika,, sekalipun benua Amerika sudah ditemuka oleh orang orang indian. Yang jelas inilah hasil sebuah cita cita dengan semangat pantang menyerah.
Ketiga,keberanian
Ngurah Rai dan kawan kawan pastilah bukan orang orang pengecut. Kalau dia orang pengecut, pastilah ia akan mengakhiri hidupnya sebagai pensiunan pegawai pekebunan kapas milik pemerintahan jajahan jepang. Tetapi Ngurah Rai dan kawan kawan menempuh jalan aman dan penakut mereka dengan sadar memilih jalan sulit dan berbahaya. Mereka memilih jalan yang jarang di lalui. Ini yang perlu kita teladani dalam hidup ini. Cita cita yang cemerlang sering kali gagal karena kita tidak memiliki keberanian untuk mewujudkannya. Kita takut untuk memulai, kita takut mengambil resiko, kita takut gagal, semua rasa takut itu melumpuhkan kita.. Goethe pujangga barat Jerman, yang paham Filsapat Hindu dan percaya dengan reinkarnasi, mengatakan “ jika anda memiliki keinginan, laksanakanlah. Keberanian memiliki kejeniusannya sendiri” jelasnya, kepandaian itu akan timbul bila kita memiliki keberanian.

Keempat, smangat berkorban
Hidup ini memang menuntut pengorbanan ( Yadnya ) dalam bahasa agama Hindu yang merupakan salah satu inti utama dari agama Hindu. Akan tetapi menafsirkan kata yadnya dalam arti sempit, yaitu dengan membuat upacara upacara.
Mahatma Gandhi Mengatakan “ yadnya yang sebenarnya, bukan menuangkan minyak Ghee ke dalam Api, tetapi mengorbankan jiwa dan raga demi kepentingan orang banyak” inilah yang telah dilakukan Ngurah Rai dan Kawan kawan. Kita semestinya dapat mengambil nilai nilai luhur dari perjuangan para pahlawan kita agar kita sebagai generasi muda tidak mudah melupakan bahwa berkat perjuangan mereka yang gigih untuk mempersatukan nusantara ini, tidak sepantasnya kita lupakan “Bangsa yang besar adalah bangsa yang yang menghormati para pahlawannya, Bangsa yang kerdil melupakannya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s